Api (konflik) nan tak kunjung padam
Rasanya kita sudah terlalu sering mendengar atau membaca berita tentang konflik, pertikaian, silang sengketa yang menjurus pada kekerasan. Tawuran pelajar, demo mahasiswa dengan merusak fasilitas kampus dan fasilitas umum, tawuran antar kampung – antar desa, bentrok antar umat beragama, kekerasan, baku lempar, baku hantam, dan baku bunuh sudah menjadi biasa. Karena begitu seringnya, berita semacam ini seolah sudah tidak mempunyai ’nilai berita’ lagi, masyarakat pun sudah apatis dan tidak terlalu peduli. Sedemikian burukkah gambaran masyarakat kita? Masyarakat Indonesia yang dalam buku-buku pelajaran digambarkan sebagai masyarakat yang sopan, santun, ramah tamah, saling menghormati, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kesusilaan.
Mengapa bisa demikian?
Ada banyak definisi tentang konflik, salah satunya didefinisikan sebagai situasi yang terjadi ketika ada perbedaan pendapat atau perbedaan cara pandang di antara beberapa orang, kelompok atau organisasi dan tidak terjadi kerjasama. Dengan definisi sederhana tersebut, maka sepanjang ada dua atau lebih individu atau kelompok, maka akan memungkinkan terjadinya konflik. Bahkan di dalam diri individu pun, bisa terjadi konflik.
Apakah konflik selalu bersifat negatif dan merusak? Sebetulnya tidak! Dalam bahasan ini, konflik dapat menjadi sebuah energi positif yang bisa membangun kehidupan seseorang atau sekelompok masyarakat. Yang bersifat negatif adalah konflik yang disertai dengan kekerasan (violence), baik kekerasan secara psikis maupun secara fisik. Pada tatanan dunia masyarakat sipil yang menghargai perbedaan, konflik disertai kekerasan sudah seharusnya dicegah dan tidak dilakukan.
Konflik terjadi sepanjang masa, bahkan sejak jaman Nabi Adam seperti tertulis dalam Kitab Suci antara Adam dan Hawa yang mempunyai persepsi berbeda tentang ‘buah terlarang’ dan juga konflik antara Kain (Qabil -menurut kitab suci umat islam) dan Habil yang berbeda pandangan dan keyakinan tentang kurban persembahan. Kisah dramatis Kain/Qabil dan Habil berakhir dengan pembunuhan yang dilakukan oleh Kain/Qabil terhadap adiknya Habil.
Contoh konflik klasik berkepanjangan yang kita tidak tahu entah kapan akan berakhir adalah konflik Timur Tengah, yang saat ini dipolarisasi menjadi konflik antara Israel dengan Palestina. Dan lebih sempit lagi ada yang memandang sebagai konflik antara Yahudi-Kristen dengan Islam, padahal konflik Israel - Palestina bukan konflik agama. Di negara kita pun, seperti disinggung di muka sudah terlalu sering dan tidak terbilang lagi, baik konflik besar pada jaman penjajahan, konflik etnis sebagaimana terjadi di Kalimantan Barat di penghujung abad 20 yang lalu, atau konflik antar pendukung calon dalam pemilihan kepala daerah, hingga konflik ecek-ecek antar preman pasar atau mahasiswa yang rebutan pacar. Konflik selalu terjadi di bumi Indonesia. Dan meminjam judul novel Sutan Takdir Alisyahbana, api konflik sepertinya nan tak kunjung padam di negara kita.
Pemicu Konflik
Konflik bisa disebabkan oleh bermacam faktor seperti karena perbedaan individu yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan; perbedaan latar belakang sosial budaya yang membentuk pribadi yang berbeda-beda, perbedaan kepentingan antar individu dan kelompok, serta karena perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat. Konflik karena latar belakang budaya bisa saja hanya akibat salah tingkah, salah tempat, ‘salah kostum’ atau kejadian-kejadian yang sebenarnya mudah untuk diluruskan kembali, namun bisa mengakibatkan luka perasaan yang berkepanjangan. Konflik kepentingan pada tahap tertentu bisa membahayakan apabila masing-masing pihak merasa paling benar dan tidak mau membuka saluran dialog dan komunikasi.
Perpaduan penyebab konflik karena kepentingan dan latar belakang sosial budaya atau identitas yang hakiki bisa menjadikan konflik sebagai peristiwa kekerasan yang mengerikan. Konflik kepentingan di Maluku di sekitar tahun 2000 dan ‘dikemas’ sebagai konflik agama menjadikan konflik ini sebagai salah satu konflik sosial terburuk di era Indonesia merdeka. Budaya adiluhung yang dibanggakan sebagai masyarakat saling hormat dan menghargai tidak berlaku lagi pada kasus ini. Konflik ini menjadi peristiwa yang kemungkinan masuk kategori difficult to forget and not easy to forgive.
Konflik sosial apabila diurai berdasarkan penyebabnya bisa dibedakan menjadi konflik vertikal dan konflik horizontal. Konflik horizontal terjadi antara kelompok masyarakat yang disebabkan oleh berbagai faktor. Penyebabnya bisa faktor ekonomi, latar belakang budaya, keyakinan, mempertahankan identitas, faktor politik, atau sebab sosial lainnya. Konflik vertikal terjadi antara kelompok sosial masyarakat dengan pemegang otoritas, seperti negara/pemerintah, atau bila terjadi pada suatu lingkungan kerja adalah konflik antara kelompok pekerja dengan manajemen atau pemilik perusahaan. Skala konflik sosial di Indonesia sangatlah beragam, dari yang tidak disertai kekerasan hingga konflik dengan kekerasan yang sering meminta korban harta benda bahkan nyawa. Konflik adalah suatu kenyataan yang tidak terhindarkan jika pihak-pihak yang bertentangan tidak memiliki pemahaman terhadap satu sama lain, dengan kata lain tujuan serta kebutuhan mereka tidak dapat lagi sejalan. Perbedaan pendapat yang terjadi di antara keduanya pada dasarnya adalah hal yang alami, namun jika tidak terkendali akan menjadi pemicu timbulnya kekerasan yang merusak kedua belah pihak bahkan lingkungan sekitarnya. Pertanyaannya, mengapa akhir-akhir ini masyarakat tidak bisa mengendalikan diri dan begitu mudah tersulut emosi?
Simon Fisher (2002) salah satu pendiri lembaga transformasi konflik “Responding to Conflict”, Birmingham, UK dalam bukunya ‘Working with Conflict; Skills & Strategies for Action’ menyampaikan bahwa kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi merupakan dasar dari munculnya suatu konflik. Sementara menurut Abraham Maslow, kebutuhan manusia dapat dikelompokkan seperti sebuah piramida mulai dari kebutuhan fisiologis/dasar untuk hidup di dasar piramida, kemudian disusul dengan kebutuhan rasa aman; kebutuhan untuk disayangi (sosial); kebutuhan untuk dihargai; hingga kebutuhan untuk aktualisasi diri. Dengan memadukan pendapat Fisher dengan Maslow tampaknya kebutuhan dasar masyarakat Indonesia yakni fisiologis dan rasa aman belumlah sepenuhnya terpenuhi. Banyak kelompok masyarakat yang kesulitan dalam pemenuhan ekonomi untuk keluarga. Selain itu rasa aman yang utamanya seharusnya menjadi tannggungjawab pemerintah juga belum bisa banyak diharapkan. Orang dengan mudah menjadi korban kejahatan baik di tempat sepi, tempat keramaian, bahkan di rumah sendiri. Pihak keamanan tidak bisa menjamin warga aman dari perampokan; sebagai contoh akhir-akhir ini ada peristiwa perampokan bank dan toko yang secara nekat dilakukan di siang bolong dan seolah melecehkan pihak keamanan.
Tidak terjadinya pemenuhan kebutuhan dasar ini membuat banyak masyarakat kecewa dan frustrasi. Dan bagi masyarakat yang berada dalam kondisi tertekan akan sangat mudah dipengaruhi untuk “melampiaskan energi” menjadi tindakan destruktif. Orang bisa dengan mudah dihasut untuk membakar dan menghancurkan kantor pemerintah atau apa pun dengan sekedar upah beberapa lembar puluhan ribu rupiah. Saat ini, seakan orang tidak takut untuk melakukan tindakan perusakan karena dalam banyak kasus pelakunya tidak diapa-apakan.
Benar bahwa tidak semua anggota masyarakat terlibat konflik dan melakukan kekerasan, tetapi muncul pertanyaan mengapa hanya sedikit dari masyarakat yang peduli, sementara sebagian besar lain tidak peduli dan menganggap peristiwa-peristiwa tersebut hanya angin lalu saja. Ada berita tentang konflik, masyarakat hanya bereaksi “Oh, ya to, di mana...?”, setelah itu tidak ingat lagi.
Mengapa masyarakat apatis? Jawaban dari pertanyaan ini akan cukup rumit bila diuraikan. Namun secara umum kemungkinannya adalah karena masyarakat sudah jenuh dan sibuk dengan pemenuhan kebutuhan dasar untuk pribadi dan keluarga. Masyarakat jenuh menunggu tegaknya peraturan yang menghukum para pelaku kekerasan, karena selama ini masyarakat menganggap pihak otoritas tidak mampu mengendalikan kelompok-kelompok masyarakat yang suka melakukan tindak kekerasan. Selain itu, mungkin kesadaran masyarakat bahwa masyarakat pun bahkan bisa berperan utama dalam mencegah konflik - belumlah tumbuh dengan baik. Ini tentu bukan kesimpulan yang berlaku untuk semua masyarakat di semua wilayah, karena di daerah tertentu di mana masyarakat memiliki kesadaran dan kepedulian akan hidup kebersamaan, potensi konflik bisa diredam dan tindak kekerasan dapat dielakkan.
Masyarakat yang Peduli!
Kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap terjaganya kehidupan yang aman dan damai menjadi salah satu kunci tertatanya kehidupan sosial tanpa kekerasan. Konflik boleh saja terjadi. Perbedaan pendapat boleh saja ada. Namun masyarakat yang sadar dan peduli harus bisa mengelola konflik dan perbedaan pendapat menjadi sesuatu yang positif dan bermanfaat bagi perkembangan masyarakat. Konflik dan perbedaan pendapat yang keras bahkan bisa menjadikan masyarakat tumbuh berkembang dan dewasa apabila masyarakat bisa mengelola dan menransformasi energi konflik menjadi energi positif.
Kejadian konflik yang seperti tak kunjung habis di negara kita hendaknya menjadi pelajaran bersama bahwa konflik dengan kekerasan hanyalah membawa kerusakan dan kerugian pada berbagai pihak. Pemerintah mempunyai andil besar dalam pemberian jaminan rasa aman pada masyarakat, sehingga kelompok-kelompok pembuat onar dan penyuka tindak kekerasan tidak semena-mena memaksakan kehendak dengan melakukan ancaman dan kekerasan. Di lain pihak, berbagai kegiatan di masyarakat yang menyediakan ruang dialog antar anggota masyarakat yang memiliki latar belakang beragam akan menumbuhkan rasa saling menghormati dan saling menghargai. Organisasi-organisasi soaial non pemerintah bisa mengambil peran sukup strategis dalam menumbuhkan katalis-katalis perdamaian di tingkat masyarakat, sehingga masyarakat bisa lebih dewasa dalam menghargai perbedaan dan memiliki rasa tanggungjawab untuk bersama-sama mewujudkan perdamaian. (Mul)
Solo, Oktober 2010
Mulyono – Manajer Umum BPP YIS
Baca Edisi Khusus "Pendidikan Perdamaian" Buletin Bergetar 190




