Memaknai Hari Kartini 'Membangun Kecerdasan'
“…keinginan akan bebas, merdeka, berdiri sendiri." (Surat Kartini kepada Nona Zeehandelaar, 25 Mei 1899)
Tanggal 21 April selalu diperingati sebagai Hari Kartini. Ya, R.A Kartini, pahlawan nasional yang memperjuangkan emansipasi wanita dan kesetaraan gender. Dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang (Door Duisternis Tot Licht), Kartini berjuang agar wanita mendapatkan persamaan hak dalam berbagai ranah kehidupan, khususnya pendidikan dan harus tetap menjunjung tinggi kodrat kewanitaannya.
Dan kini, entah siapa yang memulai dulu, Hari Kartini selalu diperingati dengan simbol-simbol kewanitaan, seperti pakaian baju daerah, parade baju daerah, lomba memasak, lomba busana, lomba merias. Hari Kartini hampir identik dengan pakaian daerah. Apalagi di sekolah-sekolah, dan kini merambah di perkantoran. Peringatan Hari Kartini hanya terbatas pada seremoni, tanpa menyentuh aspek substansi tentang makna emansipasi wanita.
Peringatan Hari Kartini yang sudah turun-temurun seperti sekarang, tentu boleh-boleh saja. Tidak ada yang melarang. Sayangnya, peringatan Hari Kartini yang ada hanya mempertegas sifat-sifat kewanitaan semata. Pakaian adat, lomba masak, lomba busana, tanpa ada Hari Kartini juga sudah menjadi ciri khas seorang wanita. Bukankah perayaan yang semacam ini malah menunjukkan wanita bersifat diskriminatif ? Jadi, bagaimana kita harus merayakan Hari Kartini?
Lalu bagaimana kita memaknai Hari Kartini? Sederhana saja, setiap kita, baik wanita maupun pria patut memperingtai Hari Kartini sebagai momentum untuk melakukan introspeksi diri agar tetap tumbuh, dari posisi hari ini menjadi lebih baik lagi di masa datang. Apa yang masih gelap dalam diri kita hari ini harus mampu kita ubah menjadi terang di hari esok dan masa datang. Di era sekarang, jangan ada lagi kegelapan dalam diri, dalam bentuk nafsu, kesombongan, arogansi, bahkan ego. Kita semua sebagai pribadi, boleh punya pendidikan tinggi, status sosial hebat, pekerjaan mentereng, namun di saat yang sama, kita masih memiliki sifat, sikap, dan perilaku yang gelap. Dan semua itu hanya kita yang tahu …! Maukah kita mengubahnya menjadi terang?
Jadi, makna Hari Kartini saat ini adalah membangun kecerdasan pada diri kita sendiri, wanita dan pria harus cerdas.
- Cerdas dalam belajar agar terbebas dari kebodohan
- Cerdas dalam bekerja agar terbebas dari kemiskinan
- Cerdas dalam beribadah agar terbebas dari kesesatan
- Cerdas dalam bergaul agar terbebas dari keterkungkungan
- Cerdas dalam hidup agar berguna bagi sesama
Kecerdasan itulah yang harus di bangun kita semua di dalam rumah, di sekolah, di kantor, di lingkungan sosial, bahkan di negara ini. Hari Kartini adalah momentum untuk menjadikan diri kita hari ini dan esok lebih terang dari hari sebelumnya. Kartini tidak pernah ingin emansipasi yang diperjuangkannya disalahgunakan sebagai kedok kebebasan kaum wanita. Emansipasi bukan pemberontakan wanita dari kodrat kewanitaannya. Wanita itu sumber kelembutan. Ia adalah pendidik utama anak-anaknya. Menjadi Ibu untuk mengantar mereka menjadi anak yang kuat, cerdas, dan berguna bagi masyarakat. Menjadi Kartini adalah sebuah sikap, bukan ambisi... Selamat Hari Kartini 2013...
Oleh: Syarif Yunus (dengan perubahan seperlunya oleh redaksi)




