Penyuluhan Gerakan ASI Eksklusif
Pemberian makanan pada bayi dan anak usia 0-24 bulan yang optimal menurut Global Strategy on Infant and Young Child Feeding (WHO/Unicef, 2002) adalah: menyusui bayi segera setelah lahir; memberikan ASI eksklusif yaitu hanya ASI saja tanpa makanan dan minuman lain sampai bayi berumur 6 bulan; memberikan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat sejak usia 6 bulan; dan tetap meneruskan pemberian ASI sampai usia anak 24 bulan.
SK Menteri Kesehatan No.:450/MENKES/SK/IV/2004 menetapkan pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif bagi bayi di Indonesia sejak lahir sampai dengan berumur enam bulan dan dianjurkan dilanjutkan sampai anak berusia dua tahun dengan pemberian makanan tambahan yang sesuai. Bayi adalah populasi yang paling rentan terhadap resiko gangguan kesehatan dan keselamatan. Terhambatnya proses menyusui serta pemberian makanan pendamping yang tidak tepat meningkatkan resiko kurang gizi, penyakit, dan kematian.
Namun, saat ini pemberian ASI ekslusif dirasa kurang karena kesibukan ibu dan kurangnya kesadaran ibu, sehingga bayi sekarang labih bayak mengonsumsi susu formula yang sebenarnya berisiko bagi sistem pencernaan bayi. Pemberian ASI eksklusif di Indonesia saat ini hanya 14%. Untuk itu, YIS sebagai LSM yang peduli terhadap kesehatan masyarakat terutama di Kota Surakarta melakukan kegiatan PENYULUHAN GERAKAN ASI EKSKLUSIF di dua kelurahan yaitu di Kalurahan Jebres dan Kalurahan Baluwarti.
Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 11 Februari dan 16 Maret 2012 ini bertujuan agar masyarakat di Jebres RW 17 dan Baluwarti RW VIII dapat mengerti, memahami tentang arti dari ASI eksklusif itu sendiri, manfaat ASI bagi ibu dan anak, serta langkah-langkah keberhasilan ASI eksklusif, terutama bagi ibu-ibu yang bekerja. Berbagai tips dalam mengatasi permasalah pemberian ASI diberikan untuk mendukung dan meningkatkan motivasi ibu misalnya cara penyimpanan ASI, perawatan payudara ibu, serta cara mengatasi keluhan–keluhan ibu dan anak dalam masa pemberian ASI.
Penyuluhan ini diikuti oleh 43 peserta di Jebres dan 36 peserta di Baluwarti. Pesan disampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh ibu, serta disusun dalam beberapa lagu yang merupakan gubahan dari lagu anak yang sudah sering didengar. Lagu dinyanyikan bersama-sama dengan peserta dan kader dan harapannya akan dinyayikan terus pada setiap pertemuan posyandu. Agar suasana diskusi semakin seru, kader posyandu setempat menyiapkan doorprize bagi peserta yang bertanya maupun yang menjawab pertanyaan. Kegiatan ini juga dihadiri oleh petugas puskesmas setempat. (AFR)





