Program Konsultasi YIS
Program Konsultasi dikembangkan oleh YIS untuk memenuhi permintaan maupun pelayanan dari mitra YIS khususnya dalam program-program pengembangan masyarakat. Misalnya saja kebutuhan dari lembaga-lembaga internasional (USAID, GTZ, AUSAID, CIDA, WORLD BANK, UNICEF, ASIAN DEVELOPMENT BANK), LSM-LSM Internasional (CRS, PLAN, CARE, PCS, etc.), maupun program-program atas kerjasama antara Pemerintah dan Lembaga Internasional, lembaga-lembaga swatsa serta LSM mitra lokal. Dalam program konsultasi ini YIS telah mempunyai banyak pengalaman terapan dalam program-program strategis pengembangan masyarakat di lapangan sejak tahun 1974.
YIS telah mengembangkan berbagai model dan modul pengembangan masyarakat lewat program-program terapannya dan mendesiminasikan kepada berbagai lembaga dan sistem yang lebih luas, misalnya : dalam pengembangan desain program/proyek, program assesment, pengembangan sistem monitoring program, pengembangan sarana komunikasi penunjang untuk kegiatan program, pengembangan manajemen, pelatihan, penelitian, evaluasi pengembangan organisasi dan media pembangunan yang partisipatif. Dalam program konsultasi ini YIS telah mempunyai konsultan-konsultan handal dengan pengalaman yang memadai dengan tingkat pendidikan dari S1 hingga S3, yang meliputi disiplin ilmu Ekonomi, Pertanian, Pendidikan, Lingkungan, Sosial, Manajemen, Penelitian dan Komunikasi dengan pengalaman lebih dari lima tahun.
Di samping itu dikembangkannya program konsultasi ini juga dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan dan tantangan YIS agar lebih profesional dan mulai menata organisasi dalam aspek kemandirian dana. Program Konsultasi mulai internsif dilakukan pada tahun 1986.
Tujuan Umum Dikembangkannya Program Konsultasi
- Deseminasi dan sharing pengalaman YIS dalam penerapan program dan pengembangan organisasi.
- Mempercepat akselerasi kegiatan-kegiatan Pengembangan Masyarakat dan peningkatan partisipasi semua pelaku pembangunan.
- Sarana YIS untuk mendapat pengakuan atas konsep, model dan modul yang telah dikembangkan dari berbagai pelaku dan sistem pembangunan yang lebih luas.
- Media profesionalisasi SDM YIS dan upaya menggalang dana menuju kemandirian dalam aspek keuangan.
Strategi Pendekatan yang Digunakan dalam Proses Pelaksanaan
- Menggunakan pendekatan partisipatif dalam semua kegiatan/proyek/program konsultasi yang dilakukan. Menempatkan client sebagai mitra.
- Kerjasama dengan berbagai lembaga, konsultan nasional dan internasional baik dalam bentuk joint program (program bersama) maupun sebagai sub-contractor.
- Aktif memasarkan jasa konsultasi kepada berbagai pihak yang membutuhkan.
- Memanfaatkan berbagai jejaring LSM dimana YIS terkait didalamnya baik ditingkat regional, nasional maupun lokal.
Layanan Konsultasi
Pengalaman KonsultasiPELATIHAN FASILITATOR PEMBERDAYAAN MASYARAKAT TANI BAGI PETUGAS DAN PENYULUH BADAN PENYULUHAN KABUPATEN KUTAI TIMUR
Dalam rangka menumbuhkembangkan kemampuan penyuluh dalam hal kefasilitatoran pemberdayaan masyarakat, sehingga peran-peran pendampingan, pembinaan, serta penyuluhan kepada masyarakat tani dapat dilakukan secara efektif dan efisien, maka Badan Penyuluhan Kabupaten Kutai Timur dan Yayasan Insan Sembada (YIS) menggagas sebuah kerjasama. Berupa kegiatan pelatihan fasilitator (Training of Facilitator) yang diselenggarakan pada tanggal 2-6 Maret 2015 bertempat di Solo, diikuti 20 orang penyuluh dari berbagai kecamatan di Kabupaten Kutai Timur. Menurut Ir.H.E. Jumairilsyah, MM., selaku Kepala Badan Penyuluhan Kabupaten Kutai Timur menyampaikan harapannya dalam acara pembukaan pelatihan tersebut “Pelatihan kefasilitatoran ini diharapkan mampu untuk meningkatkan kapasitas para penyuluh dalam proses mengorganisasi kelompok masyarakat. Sesuai amanat Undang-Undang, kita harus bisa menjalankan tugas kita sebagai Abdi Negara dengan sebaik-baiknya sebagai seorang Penyuluh ...”. Untuk menjembatani apa yang menjadi harapan Badan Penyuluhan Kabupaten Kutai Timur, maka alur pelatihan ini dirancang agar penyuluh dapat meningkat pemahaman, keterampilan, motivasi, dan sikapnya dalam melaksanakan peran dan tanggungjawabnya sebagai abdi masyarakat tani dan abdi negara, guna mendukung capaian pembangunan di Indonesia, khususnya dalam sektor pertanian.
Pelatihan Fasilitator Program Pemberdayaan Masyarakat (PM)
Pengembangan Masyarakat (PM) atau Community Development adalah suatu proses kegiatan dalam program pembangunan. Proses tersebut adalah dalam rangka mewujudkan suatu kondisi masyarakat yang memiliki kemauan dan kemampuan untuk mengidentifikasi permasalahan, merencanakan pemecahan masalah, melaksanakan, mengendalikan, dan mengembangkan hal yang berkaitan dengan diri dan lingkungannya. Untuk mewujudkan program PM yang berkelanjutan, ada dua hal paling mendasar yang seharusnya menjadi fokus perhatian, yaitu: Pertama, upaya peningkatan dan pengembangan kemampuan masyarakat menjadi prioritas utama di dalam pembangunan, agar masyarakat mampu melakukan perbaikan dan pembaharuan di wilayahnya yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan setempat. Kedua, upaya peningkatan dan pengembangan kemampuan para pendamping masyarakat sebagai motivator, fasilitator pengembangan masyarakat perlu ditingkatkan, agar mampu berperan sebagai mitra sejajar dengan masyarakat.
Wahana Visi Indonesia (WVI) Area Development Program (ADP) Sentani melihat adanya kebutuhan untuk meningkatkan kapasitas pendamping masyarakat dan anggota masyarakat yang didampingi agar memahami dan terampil dalam menganalisa situasi dan kondisi masyarakat. Sebagai upaya peningkatan kapasitas fasilitator lapangan tersebut, WVI ADP Sentani bekerjasama dengan Yayasan Insan Sembada (YIS) menyelenggarakan Pelatihan Fasilitator Program PM yang dilaksanakan pada 25-29 November 2013 di Hotel Margangsa Solo. Adapun materi pelatihan yang disampaikan, meliputi: Konsep Dasar PM, Fasilitator dan Fasilitasi, Kompetensi dan Ketrampilan Dasar Fasilitator, Ketrampilan Komunikasi, Ketrampilan Analisa Sosial, Ketrampilan Membangun Motivasi, Ketrampilan Pengambilan Keputusan, Ketrampilan Lobby dan Advokasi, Ketrampilan Mengelola Konflik, Ketrampilan Fasilitasi Pertemuan dan Pelatihan, serta Ketrampilan Monev.
Pendidikan Pendamping Bisnis Mikro (UMK)
Keberadaan pendamping menjadi salah satu faktor penting kemajuan usaha mikro yang ada di sekitar kita. Kualitas seorang pendamping harus senantiasa ditingkatkan sehingga pendamping dapat mengembangkan usaha mikro dengan baik. Supaya pendamping mampu memberikan kontribusi yang baik terhadap perkembangan para pelaku usaha mikro, maka pendamping harus memahami konsep dasar, tugas dan peran, karakteristik, kompetensi, dan persiapan-persiapan yang harus dilakukan sebelum melaksanakan kegiatan-kegiatan pendampingan usaha mikro. Dalam proses pendampingan, pendamping juga harus menghindari peran dan sikap sebagai seorang pembina, karena pada dasarnya seorang pendamping merupakan mitra kerja dan motivator bagi pelaku usaha dalam rangka untuk mengembangkan usaha mereka.
Sebagai upaya untuk berkontribusi dalam penyediaan pendamping usaha mikro yang kompeten, Yayasan Insan Sembada (YIS) dan Mien Rachman Uno Foundation (MRUF) bekerjasama untuk mengembangkan sebuah konsep peningkatan kapasitas pendamping bisnis mikro, khususnya melalui lembaga keuangan mikro (BMT). Peningkatan kompetensi pendamping ini diramu menjadi sebuah pelatihan yang dinamakan ‘Pendidikan Pendamping Bisnis Mikro’. Pelatihan perdana dilaksanakan pada 28 Oktober - 03 November 2013 di Hotel Malioboro Inn Solo, yang diikuti oleh 15 peserta perwakilan 12 BMT dari Kota Bandung, Bogor, Garut, dan Tasikmalaya.
World Neighbors dan Mitra Studi Banding ke YIS
World Neighbors dan mitra (AHCAE, BIFANO, CECEO, dan FFSO) adakan studi banding bagi staf keuangan dan administrasi ke Yayasan Insan Sembada (YIS) Solo. Kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari (10-11/11/2010) ini terkait dengan keterbatasan keterampilan teknis yang dimiliki oleh staf-staf lembaga tersebut dalam pengelolaan program di Timor Leste yang baru berjalan sejak 2006 lalu.
Tujuan diadakannya program studi banding ini, yaitu: (1) Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman staf tentang dasar-dasar administrasi dan keungan; (2) Meningkatkan keterampilan staf tentang pengelolaan SDM; (3) Meningkatkan kemampuan peserta dalam pengembangan prosedur, pengelolaan dokumen, dan manajemen lembaga; (4) Meningkatkan kemampuan staf dalam pengelolaan keuangan multi donor.




